Tentang Gue, Bokap dan sebuah kecanggungan

Tulisan ini dibuat ketika jam istirahat kerja pas dapet shift malam karena curhatan teman Gue.



Hari ini, tepat nya di pagi buta tanggal 29 Maret pukul 02.15 dini hari. Hari ini Gue belajar satu hal dari teman se-kerjaan Gue bahwa 'Sayangilah orang tua mu lebih dari mereka menyayangi mu, meskipun kamu tau kasih sayang kamu tidak akan bisa mengganti semua apa yang telah mereka berikan.'

Gue bersyukur banget kedua orang tua Gue masih lengkap enggak kaya teman se-kerjaan Gue, sebut saja 'Hilman' (bukan naman sebenar nya) Hilman yang sejak kecil sudah ditinggal oleh sang Ayah menceritakan kerinduan nya kepada orang tua nya, khusus nya Ayah nya yang wajah nya tidak pernah Dia ingat.
Kenapa muka Gue jadi kek gitu?

Seolah Gue bisa merasakan apa yang Dia rasakan Gue hanya bisa bilang 'bersyukur saja, Man, paling enggak kamu masih ada Ibu kamu'
Mendengarkan curhatan Hilman itu, mendadak Gue juga keinget dengan kedua orang tua Gue. Alhamdulillah Ibu dan Ayah Gue masih ada dan Gue sayang sama mereka, meskipun kadang ada rasa kecanggungan Gue ke Ayah Gue hanya sekedar untuk memanggil nya 'Ayah'.

Kecanggungan ini Gue rasakan ketika Gue menginjak usia sekitar 9 tahunan. Seperti apakah kecanggungan nya?, begini:
Sampai sekarang Gue enggak tau kenapa Gue enggak pernah manggil Ayah Gue dengan panggilan 'Ayah, Bapak, Papa', atau panggilan lain nya untuk Ayah.
Bukan hanya itu saja, ketika Gue sedang main kemudian ketemu Ayah Gue dijalan bukan nya seperti anak-anak lain nya yang akan menyapa Ayah nya, Gue malah membiarkan nya seolah-olah Gue enggak kenal.

Kecanggungan ini pun mulai diketahui oleh Ibu Gue 'Gung, kamu sama Ayah sendiri kaya orang yang enggak kenal. Kamu manggil namanya aja jarang, kenapa sih?' Tanya Ibu Gue disela-sela waktu santai di ruang keluarga.

Gue: 'Engga apa-apa sih, bu. Emang Aku gini aja.'
Ibu: 'tapi ko kalo ke ibu biasa aja?'
Gue: 'enggak tau deh' jawaban Gue bingung mau jawab apa.
Tapi jangan salah sangka kalo Gue Kaku sama Ayah Gue bukan berarti Gue benci. Anak bodoh macam apa yang membenci Orang tua nya? Gue sayang sama Ayah Gue, bahkan sebelum Gue merasa Kaku untuk manggil 'Ayah' ke Ayah Gue, Gue dulu lebih dekat dengan Ayah Gue.

Ayah Gue sebetul nya adalah orang tua sekaligus teman Gue yang asyik dan penyayang. Gue masih inget waktu Dia pulang kerja dan hanya mendapa upah yang minimal Dia pergi ke sebuah toko alat-alat musik untuk beliin Gue rebbana yang Gue minta dengan merengek tentu nya.

Gue juga masih inget ketika Ayah Gue harus berjalan menggunkan tongkat gara-gara Dia jatuh dari pohon. Jujur waktu itu Gue pengin nolongin Ayah Gue yang jatuh dari pohon dan enggak berdaya, tapi apa daya, Gue hanya anak kecil berumur sekitar 5 setengah tahun, yang Gue bisa lakuin hanya merengek minta tolong ke orang sekitar untuk nolong Ayah Gue.

Semenjak Gue udah lulus dari sekolah Gue dan Ayah Gue sekarang cukup intens berkomunikasi selain alasan nya karna Ibu Gue itu orang nya gaptek dan sedikit ngeselin kalo lagi ditelpon Ayah Gue juga bisa ngerti keadaan Gue.

Ayah juga sekarang sering minta pendapat Gue, contoh nya waktu kemarin ketika Paman Gue hendak menjual tanah kavlingan nya. Ayah yang pengin beli tanah itu langsung nanya ke Gue 'Gimana, ya Gung kalo tanah itu kita ambil aja?' Tanya Ayah Gue dari telepon
'Aku sih gimana disitu nya aja (Masih enggak mau bilang 'Aku sih gimana A Y A H aja')
Ayah: 'Kalo Ayah sih pengin nya diambil aja'
Gue: 'Yaudah, Aku bisa bantu apa?'
Perlahan tapi pasti Gue mulai menghilangkan kecanggunag Gue ke Ayah Gue dan Gue yakin bisa.

Dan Gue bersyukur mempunyai kedua orang tua seperti mereka, dan Gue akan menyayangi mereka dan berbakti untuk mereka, seperti apa yang Hilman katan ''Sayangi orang tua mu selagi mereka masih ada lebih dari mereka menyayangi mu, meskipun kamu tau kasih sayang kamu tidak akan bisa mengganti semua apa yang telah mereka berikan.'

Comments

Popular Posts